Mempertimbangkan Imunisasi

Tulisan ini sengaja dibuat sebagai jawaban & reaksi dari apa yg ada di blog pak Gugun di http://www.gugundesign.wordpress.com/2007/08/07/imunisasi-siapa-tidak-takut/

Sebenarnya di blog tsb jg sdh terjadi diskusi yg panjang & menarik, yg bila dibaca pendapat2 yg berkembang tsb terdapat pro dan kontra. Ini berarti belum ada kesepakatan & kesimpulan mengenai hal ini. Saya akan mencoba menerangkan dari apa yg saya tahu ttg masalah ini (ini bukan berarti saya yg paling tahu lho), karena ternyata ada teman saya, sesama dokter anak, yg mendapat complain dari orang tua pasien karena mendapat informasi dari blognya pak Gugun. Tulisan ini saya masukkan ke blog saya agar pasien2 saya dapat ikut membaca dan memahami (dan saya harap kemudian setuju, atau paling tidak bijak dlm mensikapi masalah ini).

1. Imunisasi pada dasarnya harus dilakukan secara sukarela kepada siapa saja yg akan mendapatkannya. Memang pd anak terdapat istilah imunisasi wajib (5 macam pada saat bayi), tp menurut saya, dokter & pemerintah hanya bisa menganjurkan tindakan ini. Bila orang tua si anak tidak mau, dokter tidak bisa memaksakan, hanya bisa sebatas memberi saran & penjelasan. Kecuali utk imunisasi wajib sebelum berangkat haji, saya belum ada komentar, karena memang yg saya tahu hal itu wajib & menjadi syarat. Apa kalau kita menandatangani surat penolakan kita tetap tidak boleh berangkat haji, saya tdk tahu karena belum pernah mencoba. Mungkin itu juga termasuk regulasi dari pemerintah Arab Saudi. Mungkin kita akan membahasnya lebih lanjut di tempat yg lain.

2. Dari pengalaman saya, manfaat imunisasi memang baru terasa bila anak kita menderita sakit yg seharusnya bisa dicegah dgn imunisasi. Begitu yang kadang saya katakan pd orang tua pasien yg tdk mau mengimunisasi campak anaknya & kemudian anaknya sakit campak. Bila anak kita, yg diimunisasi atau tidak, tidak menderita sakit apa2, kita lupa akan manfaat imunisasi.

3. Di dalam ilmu kedokteran, kaidah2 yg obyektif (terlihat secara kasat mata, dsb) adalah sebagai kaidah yg disuperioritaskan. Ilmu kedokteran tdk membahas hal2 yg supranatural, tetapi hanya yg natural2 saja. Semua data diolah secara obyektif dan terbuka. Adakah data2 yg kotor & manipulatif? Rasa saya kok ada, dimana kepentingan politik, bisnis dsb ikut bermain dalam dunia kedokteran ini. Dalam dunia ilmu kedokteran juga menganut teori relatifitas, maksudnya tidak ada ilmu yang absolut. Hari ini mungkin pendapat/ilmu A yang dianut, besok mungkin sdh ilmu B. Kalau dalam Islam ada ijtihad yang katanya kalau benar dapat pahala dua, kalau salahpun tetap mendapat pahala satu. Kita bebas memilih pendapat mana yg kita anut sesuai dengan keyakinan masing2 dimana keterangan yg (kita anggap paling) jujur & pengalaman menjadi dasar keyakinan itu. Di ilmu tentang imunisasi yg saya tahu sudah dinyatakan dengan jujur bahwa keefektifan imunisasi memang tidak sampai 100%, begitu pula keamanannya tidak 100% aman. Masing2 jenis imunisasi mempunyai keterangannya sendiri2 ttg hal ini, seperti BCG, Polio, DPT, MMR dsb. Menjadi tugas dokter yg akan mengimunisasi utk menerangkan seluk beluk imunisasi tsb, terutama bila ditanya. Karena orang tua yg membawa anaknya utk imunisasi dianggap sudah tahu ttg masalah ini, walaupun tidak salah & lebih baik bila dokter sembari mempersiapkan proses imunisasinya mencoba bertanya kepada orang tua si anak sampai sejauh mana persepsi orang tua thd imunisasi tersebut. Karena pengalaman saya, ada orang tua yg menganggap imunisasi HiB adalah imunisasi utk otak, atau imunisasi utk radang otak (padahal hanya khusus utk kuman yg bernama HiB saja), bahkan yang lebih “parah” katanya imunisasi buat kepinteran.. Wah, wah.. lebay deh.. (dan ironisnya kalau tdk salah info itupun didpt dari seorang dokter.. Wah, gawat.. dokternya pun ikut menyesatkan..). Saya tidak (atau belum) akan mengungkapkan tentang imunisasi satu persatu di tulisan ini. Inti dari poin 3 ini adalah bahwa dunia kedokteran jujur mengakui & mengungkapkan fakta2 mengenai imunisasi. Bagaimana dengan dunia lain, selain kedokteran, silakan anda nilai sendiri.

4. Mengenai kandungan vaksin yg terdapat unsur babi dsb, saya berpendapat kalau memang itu terpaksa maka saya kira agama dapat memberi keringanan, kalau tdk ada alternatifnya. Kalau umat islam ingin vaksin yang tdk ada unsur2 babi, dsb, nyatanya kalangan kita blm mampu memproduksi sendiri. Mengenai kandungan racun, dsb, vaksin tsb dipastikan sdh melalui uji yg ketat, yg sdh diperhitungkan segala risikonya. Masa sih mereka (produsen) juga ingin meracuni anak2 mereka sendiri? Saya kira tidak. Lagipula apa bisa badan kita ini steril 100% dari racun2 tsb saat ini? susah deh sepertinya di lingkungan kita seperti sekarang ini.

5. Kita perlu mempelajari jenis2 vaksin satu demi satu.  Dari situ kita bisa tentukan mana yg signifikan kebermaknaannya dlm mencegah penyakit, dan mana yg berisiko tinggi dlm membahayakan tubuh manusia. Mungkin saya perlu beri contoh bagaimana imunisasi sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Penyakit cacar, alhamdulillah, sdh punah dari muka bumi kita. Cacar (variola), bkn cacar air, yg bila orang terkena akan menimbulkan bekas bopeng2 pd kulit. Itulah manfaat vaksin, yg jelas terbukti sangat meyakinkan.

Jadi kesimpulannya, kita perlu data lbh banyak lagi, utk dpt menentukan sesuatu hal. Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Judul tulisan di blog pak Gugun cukup baik, tp harus diikuti oleh data2 yg berimbang (disertai bukti, manfaat vaksin, dll), biar pembaca memperoleh informasi yang cukup utk proses pengambilan keputusan terbaiknya, terutama dalam masalah imunisasi bagi anaknya. Terima kasih.

~ by yanuar adjie on 25 December 2010.

4 Responses to “Mempertimbangkan Imunisasi”

  1. saya mau bertanya kenapa sudah divaksin BCG atau apa namanya utk mencegah TB, ternyata penyakit TB terus meningkat kejadiannya? kenapa waluapun divaksin cacar tetap kena cacar air?

  2. Terima kasih atas tanggapan pak Abu.. Spt yg sdh tersebut dlm tulisan saya, pertama, memang daya proteksi vaksin tdk 100%. Dari literatur disebutkan bhw proteksi BCG berkisar dari 0-80% (betul, artinya ada yg tdk berproteksi sama sekali), sementara vaksin cacar air berkisar 71-100%. Jadi, memang spt itu. Walau sdh diimunisasi, tetap saja usaha2 pencegahan penyakit harus tetap dilakukan. Misalnya pada masalah penyakit TBC dgn cara menghindari kontak dgn sumber penularan, mengobatkan org dewasa yg menderita TBC, dll. Atau misal pd penyakit lain spt tetanus, agar melakukan pembersihan thd kejadian luka yg kotor, dsb. Tidak mentang2 sdh imunisasi lalu tdk memperdulikan lagi bahaya masuknya kuman dlm tubuh kita. Utk TBC, selain masalah proteksi yg tdk terlalu tinggi, kejadian yg tetap tinggi jg terpengaruh oleh multifaktorial, seperti keadaan sosial yg kurang, hidup di pemukiman padat, masalah kultur dimana penderita malu juga malas utk memeriksakan diri bila ada tanda2 TBC, atau mungkin faktor ekonomi. Penular TBC adalah penderita aktif dewasa. Anak2 hanya bisa tertulari. TBC itu sendiri punya karakteristik yg agak berbeda, dimana kadang disebut sbg silent disease, datangnya pelan2 & gejalanya tdk khas. Hal ini jg yg menjadi faktor sulitnya memberantas TBC dari komunitas kita. Akhir2 ini TBC menjadi meledak lagi, karena faktor kejadian infeksi HIV/AIDS. Demikian uraian saya, semoga menjawab yg menjadi pertanyaan pak Abu. Wassalam..

  3. pak Abu, saya telah kirim komentar & tanggapan utk tulisan di blog bapak, namun mengapa belum dimuat & belum ada tanggapan? terima kasih..

  4. Cacar dengan cacar air beda lhoo.. Mohon pak abu baca lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 357 other followers

%d bloggers like this: